Laman

Rabu, 05 Maret 2014

Khidupan Kerajaan Kediri dan Singasari



a.      Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri merupakan kerajaan yang berdiri pada abad XI Masehi dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang Kamulan yang didirikan oleh Mpu Sindok dari Dinasti Isyana. Kerajaan ini terletak di wilayah pedalaman Jawa Timur. Kerajaan ini merupakan hasil dari pembagian wilayah Kerajaan Medang Kamulan yang dibagi menjadi dua yakni Panjalu dan Jenggala. Nama Keraajaan Kediri sebelumnya adalah Panjalu.
Adapun kehidupan politik, agama, ekonomi, sosial dan budaya pada masa Kerajaan Kediri adalah sebagai berikut :
a.    Kehidupan Politik
Raja pertama Kediri adalah Samarawijaya. Selama menjadi Raja Kediri, Samarawijaya selalu berrselisih paham dengan saudaranya, Mapanji Garasakan yag berkuasa di Jenggala. Keduanya merasa berhak atas seluruh takhta Raja Airlangga (Kerajaan Medang Kamulan) yang meliputi hampir seluruh wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Akhirnya perselisihan tersebut menimbulkan perang saudara yang berlangsung hingga tahun 1052. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Samarawijaya dan berhasil menaklukan Jenggala.
Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Jayabaya. Saat itu wilayah kekuasaan Kediri meliputi seluruh bekas wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Selama menjadi Raja Kediri, Jayabaya berhasil kembali menaklukan Jenggala yanga sempat memberontak ingin memisahkan diri dari Kediri. Keberhasilannya tersebut diberitakan dalam prasasti Hantang yang beraangka tahun 1135. Prasasti ini memuat tulisan yang berbunyi Panjalu jayati yang artinya Panjalu menang. Prasasti tersebut dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah dari Jayabaya untuk penduduk Desa Hantang yang setia pada Kediri selam perang melawan Jenggala.
Sebagai kemenangan atas Jenggala, nama Jayabaya diabadikan dalam kitab Bharatayuda. Kitab ini merupakn kitab yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Bharatayuda memuat kisah perang perbutan takhta Hastinapura antara keluarga Pandhawa daan Kurawa. Sejarah pertikaian anatar Panjalu dan Jenggala mirip dengan kisah tersebut sehingga kitab Bharatayuda dianggap sebagai legitimasi (klaim) Jayabaya untuk memperkuat kekuasaannya atas seluruh wilayah bekas Kerajaan Medang Kamulan. Selain itu, untuk menunjukkan kebesaran dan kewibawaan sebagai Raja Kediri, Jayabaya menyatakan dirinya sebagai keturunan Airlangga dan titisan Dewa Wisnu. Selanjutnya ia mengenakan lencana narasinga sebagai lambang Kerajaan Kediri.
Pada masa pemerintahan Ketajaya Kerajaan Kediri mulai mengalami kemunduran. Raja Kertajaya membuat kebijakan yang tidak populer dengan mengurangi hak-hak brahmana. Kondisi ini menyebabkan banyak brahmana yang mengungsi ke wilayah Tumapel yang dkuasai oleh Ken Arok. Melihat kejadian ini Kertajaya memutuskan untuk menyerang Tumapel. Akan tetapi pertempuran di Desa Ganter, pasukan Kediri mengalami kekalahan dan Kertajaya terbunuh. Sejak saat itu Kerajaan Kediri berakhir dan kedudukannya digantikan oleh Singasari.
b.      Kehidupan Agama
Masyarakat Kediri memiliki kehidupan agama yang sangat religius. Mereka menganut ajaran agama Hindu Syiwa. Hal ini terlihat dari berbagai peninggalan arkeolog yang ditemukan di wilayah Kediri yakni berupa arca-arca di candi Gurah dan Candi Tondowongso. Arca-arca tersebut menunjukkan latar belakang agama Hindu Syiwa. Para penganut agama Hindu Syiwa menyembah Dewa Syiwa, karena merekaa mempercayai bahwa Dewa Syiwa dapat menjelma menjadi Syiwa Maha Dewa (Maheswara), Dewa Maha Guru, dan Makala. Salah satu pemujaan yang dilakukan pendeta adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut Mantra Catur Dasa Syiwa atau empat belas wujud Syiwa.
c.       Kehidupan Ekonomi
Perekonomian di Kediri bertumpu pada sektor pertanian dan perdagangan. Sebagai kerajaan agraris, Kediri memiliki lahan pertanian yang baik di sekitar Sungai Brantas. Pertanian menghasilkan banyak beras dan menjadikannya komoditas utama perdagangan. Sektor perdagangan Kediri dikembangkan melalui jalur pelayaran Sungai Brantas. Selain beras, barang-barang yang diperdagangkan di Kediri antara lian emas, perak, kayu cendana, rempah-rempah, dan pinang.
Pedagang Kediri memiliki peran penting dalam perdagangan di wilyah Asia. Mereka memperkenalkan rempah-rempah diperdagangan dunia. Mereka membawa rempah-rempah ke sejumlah Bandar di Indonesia bagian barat, yaitu Sriwijay daan Ligor. Selanjutnya rempah-rempah dibawa ke India, Teluk Persia, Luat Merah. Komoditas ini kemudian diangkut oleh kapal-kapal Venesia menuju Eropa. Dengan demikian, melalui Kediri wilayah Maluku mulai dikenal dalam lalu lintas perdagangan dunia.
d.      Kehidupan Sosial Budaya
Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya, struktur pemerintahan Kerajaan Kediri sudah teratur. Berdasarkan kedudukannya dalam pemerintahan, masyarakat Kedri dibedakan menjadi tiga golongan sebagai berikut :
1.      Golongan masyarakat pusat (kerajaan), yaitu masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya.
2.      Golongan masyarakat thani (daerah), yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilyah thani (daerah).
3.      Golongan masyarakat nonpemerintah, yaitu golongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintah secara resmi.
Kehidupan budaya Kerajaan Kediri terutama dalam bidang sastra berkembang pesat. Pada masa pemerintahan Jayabaya kitab Bharatayuda berhasil digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Selain itu Mpu Panuluh menulis kitab Hariwangsa dan Gatotkacasrayaa. Selanjutnya pada masa pemerintahan Kameswara  muncul kitab Smaradhahana yang ditulis oleh Mpu Dharmaja serta kirab Lubdaka dan Wertasancaya yang ditulis oleh Mpu Tanakung. Pada masa pemerintahan Kertajaya terdapat Pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis kitab Sumansantaka dan Mpu Triguna yang menulis kitab Kresnayana.
b.      Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari merupakan kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi. Kerajaan ini terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Kerajaan Singasari beribu kota di Tumapel. Awalnya Tumapel hanya sebuah wilayah kabupaten yang berada di bawah kekusaan Kerajaan Kediri. Tumapel dipimpin oleh bupati yang bernama Ken Arok. Setelah berhasil Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Kertajaya, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari.
Keberadaan Kerajaan Singasari dibuktikan melalui candi-candi yang ditemukan di daerah Singasari hingga Malang, Jawa Timur. Selain itu keberadaan Singasari dijelaskan dalam kitab Negarakertagama dan Pararaton. Kitab Negaraketagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menjelaskan tentang silsilah raja-raja Singasari hingga Majapahit, sedangkan kitab Pararaton menceritakan kisah Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari.
Adapun kehidupan politik, agama, ekonomi, sosial, dan budaya pada masa Kerajaan Singasari adalah sebagai berikut :
a.      Kehidupan Politik
Kerajaan Singosari yang pernah mengalami kejayaan dalam perkembangan kerajaan hindu di Indonesia dan bahkan menjai cikal bakal lahirnya kerajaan Majapahit. Di dalam kitab Pararaton di ceritakan bahwa Ken Arok (raja pertama) adalah anak dewa Brahmana yang di titiskan lewat seorang perempuan dari desa Pungkur, tubuh Ken Arok bercahaya. Brahmana smpat menyampaikan pesan bahwa kelak bayi tersebut akan menjadi seorang raja. Tanpa di ketahui alasannya, bayi tersebut di buang oleh ibunya. Namun seorang pencuri yang bernama Lembong menemukan dan menjadikannya anak angkat. Tetapi Ken Arok tumbuh menjadi anak yang nakal, suka berkelahi, mencuri serta mengganggu orang lain. Setelah dewasa, Ken Arok pergi mengembara hingga sampai ke gunung Kawi. Ia bertulang menjadi seorang pencuri, perampok, pembunuh, dan pengganggu wanita.
Kejahatan yang semakin merajalela ini membuat Ken Arok di buru oleh masyarakat dan Pasukan Kediri, akan tetapi ia sempat meloloskan diri. Setelah itu ia bertemu dengan seorang Brahmana yang bernama Lohgawe dan Ken Arok pun di angkat sebagai anak. Ia memproleh pendidikan keagamaan dan ilmu pengetahuan dari Lohgawe. Lambat laun ia menjadi seorang yang cakap, berani, dan mengagumkan. Setelah itu dia di angkat menjadi pengawal Adipati Tumapel yaitu Tunggul Ametung yang kemudian nanti di taklukkan Ken Arok dan menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Singosari seperti yang di sebutkan di atas.
Semula Ken Arok adalah seorang pengawal setia Tunggul Ametung dan sebagai tangan kanan Akuwu (bupati). Akan tetapi kesetiaan ini berubah tatkala timbul keinginannya untuk memiliki memperistri dari istri Tunggal Ametung, Ken Dedes. Ken Arok akhirnya berhasil mewujudkan keinginannya dengan peranrtara Kebo Ijo, melalui cara membunuhnya menggunakan keris yang di tempahnya kepada Mpu Gandring. Setelah itu Ken Arok memperistri Ken Dedes dan menjadi Akuwu (bupati) di Tumapel. Kerajaan Singosari juga sering di warnai dengan antar sesamanya untuk memperebutkan kekuasaan dan berupa penghianatan. Peristiwa keris Mpu Gandring ini kebenarannya masih belum jelas, apakah keris ini telah membunuh beberapa orang sampai 7 orang seperti kutuka Mpu Gandring. Setelah memerintah dengan bantuan Brahamana, Ken Arok berhasil mengubah ketatanegaraan sesuai dengan ajaran Hundu dan mendirikan Dinasti Garindra Wangsa yang kemudian di rubah menjadi Singosari.
b.      Kehidupan Agama
Pada masa pemerintahan Kertanegara terdapat upaya menyatukan agama Hindu Syiwa dengan Budha Mahayana menjadi agama Tantrayana. Agama ini dipimpin oleh seorang pendeta yang disebut Dharmadyaksa. Tantrayana menjadi agama resmi Negara. Kondisi ini terlihat dari kegiatan Kertanegara dan pembesar istana yang sering mengadakan upacara Tantrayana. Agama Tantrayana merupakan perkembangan dari agama Budha Mahayana.
c.       Kehidupan Ekonom
Singasari merupakan Kerajaan Hindu Budha yang bercorak agraris karena terletak di pedalaman Malang, Jawa Timur. Sektor ekonomi di Singasari menitikberatkan pada sektor pertanian. Akan tetapi dengan keberadaan Sungai Brantas sekor pelayaran dan perdagangan juga berkembang. Singasari memiliki pelabuhan perdagangan di Pasuruan. Melalui ini para pedagang melakukan kontak dengan pedagang asing.
            Pada masa pemerintahan Kertanegara sektor perdagangan dan pelayaran Singasari berkembang pesat. Pada saat itu Singasari berhasil menguasai jalur perdagangan dari Selat Malaka di bagian barat hingga Kepulauan Maluku di bagian timur. Komoditas yang diperdagangkan antara lain beras, emas, kayu cendana, dan rempah-rempah.
d.      Kehidupan Sosial Budaya
                  Kondisi sosial masyarakat Singasari selalu berubah bergantung pada kebijakan raja dan kondisi politik yang terjadi di kerajaan. Saat Ken Arok memimpin Singasari kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Ken Arok berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Setelah Ken Arok meninggal kondisi masyarakat sempat terguncang akibat konflik politik antara keluarga kerajaan. Pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan sosial masyarakat kurang diperhatikan karena ia terlalu sibuk untuk menyabung ayam. Selanjutnya pada masa pemerintahan Kertanegara kehidupan sosial masyarakat kembali teratur. Kertanegara berusaha menjaga stabilitas politik dan keamanan Negara Singasari sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.
                  Dalam bidang kebudayaan masyarakat Singasari sudah ahli dalam membuat candid an patung. Candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari antara lain candi Kidal, Jago, dan Singasari. Sementara itu karya berupa patung antara lain patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari Dewi Prajnaparamita (lambang kesempurnaan ilmu) dan patung Joko Dolok sebagai perwujudan Kertanegara.

Kehidupan pada masa Dinasti Isyana




Awalnya Kerajaan Mataram Kuno merupakan Kerajaan yang dipimpin oleh dua Dinasti yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra yang terletak di Jawa Tengah. Tetapi karena ada beberapa factor diantaranya yakni karena bencana alam, yakni meletusnya gunung berapi dan akibat banyak tenaga laki-laki yang dipekerjakan untuk membuat candi sehingga sawah menjadi terbengkalai. Sehingga Kerajaan tersebut dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok dan mendirikan dinasti baru yakni Dinasti Isyana. Kerajaan ini kemudian disebut sebagai Kerajaan Medang Kemulan dengan pusat pemerintahan di Walunggaluh.
            Adapun kehidupan  masyarakat pada masa pemerintahan Dinasti Isyana   yakni sebagai berikut :
a.      Kehidupan Politik
Pemindahan kekuasaan ke Jawa timur dilakukan oleh Raja Empu Sendok dan membentuk dinasti baru yakni Isana. Nama Isana diambil dari gelar resmi Empu Sendok, yakni Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikramatunggadewa.
            Wilayah kekuasaan Empu Sendok meliputi Nganjuk disebelah barat, Pasuruan di timur, Surabaya di utara, dan Malang di selatan. Empu Sendok memegang pemerintahan tahun 929–947 dengan pusat pemerintahannya di Watugaluh. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana dengan melakukan berbagai usaha untuk kemakmuran rakyat. Di antaranya ialah membuat bendungan-bendungan untuk perairan dan memberikan hadiah-hadiah tanah untuk pemeliharaan bangunan-bangunan suci. 
Di samping itu juga memerintahkan untuk mengubah sebuah kitab agama Buddha aliran Tantrayana yang diberi judul Sang Hyang Kamahayanikan. Setelah Empu Sendok meninggal kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Sri Isanatunggawijaya. Putri ini menikiah dengan Lokapala yang melahirkan seorang putra yang bernama Makutawangsawardana sebagai peneruskan takhta ibunya.
Setelah Makutawangsawardana meninggal yang menggantikan ialah Dharmawangsa (990–1016). Dalam pemerintahannya ia berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yang hidup dari pertanian dan perdagangan.
Pada saat itu pusat perdagangan di Indonesia dikuasai oleh Sriwijaya sehingga untuk mengambilalihnya Dharmawangsa berusaha untuk menyerang Sriwijaya. Namun, Sriwijaya bangkit mengadakan serangan balasan.
            Dalam hal ini Sriwijaya mengadakan kerja sama dengan Kerajaan Worawari (kerajaan di Jawa). Serangan Worawari sangat tepat, yakni ketika Dharmawangsa melangsungkan upacara pernikahan putrinya dengan Airlangga (1016) putra Raja Bali. Dharmawangsa beserta seluruh pembesar istana tewas (pralaya). Namun, Airlangga berhasil meloloskan diri beserta istri, pengiringnya yang setia Narotama, dan beberapa pendeta menuju hutan Wonogiri.
            Selama tiga tahun (1016–1019) Airlangga digembleng lahir dan batin oleh para pendeta. Atas tuntutan rakyat dan pendeta, Airlangga bersedia menjadi raja menggantikan Dharmawangsa. Pada tahun 1019, Airlangga dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sri Maharaja rake Halu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa
Tugas Airlangga ialah mengembalikan kekuasaan seperti zaman Dharmawangsa dan berhasil dengan baik. Ibu kota kerajaan yang sebelumnya berada  Wutan Mas, kemudian dipindahkan ke Kahuripan pada tahun 1037. 
Selanjutnya, Airlangga melakukan pembangunan di segala bidang demi kemakmuran rakyatnya. Pada tahun 1042 Airlangga mengundurkan diri dari takhta dan menjadi seorang petapa dengan nama  Jatinindra atau Resi Jatayu. Sebelumnya Airlangga ingin menobatkan putrinya, Sri Sanggramawijaya untuk menjadi raja, namun ditolak karena ingin menjadi petapa yang dikenal dengan nama Dewi Kili Suci
Akhirnya, kerajaan Airlangga dibagi menjadi dua, yakni Jenggala dengan ibu kota Kahuripan dan Panjalu yang dikenal dengan nama Kediri untuk kedua putranya dari istri selir. Jenggala diperintah oleh Garasakan, sedangkan Kediri oleh Samarawijaya.
b.      Kehidupan Sosial
Pada masa pemerintahan Airlangga tercipta karya sastra Arjunawiwaha yang dikarang oleh Mpu Kanwa. Begitu pula seni wayang berkembang dengan baik, ceritanya diambil dari karya sastra Ramayana dan Mahabharata yang ditulis ulang dan dipadukan dengan budaya Jawa. Raja Airlangga merupakan raja yang peduli pada keadaan masyarakatnya. Hal itu terbukti dengan dibuatnya tanggul-tanggul dan waduk di beberapa bagian di Sungai Berantas untuk mengatasi masalah banjir. Pada masa Airlangga banyak dihasilkan karya-karya sastra, hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kebijakan raja yang melindungi para seniman, sastrawan dan para pujangga,sehingga mereka dengan bebas dapat mengembangkan kreativitas yang merekamiliki. Pada kronik-kronik Cina tercatat beberapa hal penting tentang Kediri yaitu:
1. Rakyat Kediri pada umumnya telah memiliki tempat tinggal yang baik, layak huni dan tertata dengan rapi, serta rakyat telah mampu untuk berpakaian dengan baik.
2. Hukuman di Kediri terdapat dua macam yaitu denda dan hukuman matibagi perampok.
3. Kalau sakit rakyat tidak mencari obat, tetapi cukup dengan memujapara dewa.
c.       Kehidupan Agama
Agama yang berkembang pada masa pemerintahan airlangga adalah agama hindu waisnawa. Hal ini Nampak pada candi belahan dimana airlangga diwujudkan sebagai sebuah arca sebagai wisnu menaiki garuda.Untuk mengenang jerih payah airlangga mempersatukan kerajaan yang porak-poranda disusunlah kitab arjuna wiwaha oleh mpu kanwa 1030. Inilah hasil sastrazaman airlangga yang sampai pada kita. Sementara airlangga sendiri sebelum mengundurkan diri jadi pertapa, ia telah membangunkan sebuah pertapaan bagianaknya sangramawijaya di pucangan (gunung penanggungan).
d.      Kehidupan Ekonomi
Mpu Sindok memerintah dengan bijaksana. Hal ini bisa dilihat dari usaha usaha yang ia lakukan, seperti Mpu Sindok banyak membangun bendungan dan memberikan hadiah-hadiah tanah untuk pemeliharaan bangunan suci untukmeningkatkan kehidupan rakyatnya. Begitu pula pada masa pemerintahan Airlangga, ia berusaha memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Berantas dengan memberi tanggul-tanggul untuk mencegah banjir. Sementaraitu dibidang sastra, pada masa pemerintahannya telah tercipta satu hasil karyasastra yang terkenal, yaitu karya Mpu Kanwa yang berhasil menyusun kitab Arjuna Wiwaha.
Pada masa Kerajaan Kediri banyak informasi dari sumberkronik Cina yang menyatakan tentang Kediri yang menyebutkan Kediri banyak menghasilkan beras, perdagangan yang ramai di Kediri dengan barang yang diperdagangkan seperti emas, perak, gading, kayu cendana, dan pinang. Dari keterangan tersebut, kita dapat menilai bahwa masyarakat pada umumnya hidup dari pertanian dan perdagangan.

Kehidupan Kerajaan Mataram Kuno




         Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Budha yang berkembang di wilayah Jawa Tengah pada abad VIII Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Sanaha dari Galuh, Jawa Barat. Pusat pemerintahan Mataram Kuno disebut dengan Bhumi Mataram. Kerajaan Mataram dipimpin pleh dua Dinasti yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Budha.
         Wilayah Bhumi Mataram terbentang di tiga daerah yaitu Kedu, Yogyakarta, dan Surakarta. Bhumi Mataram dikelilingi oleh jajaran gunung dan pegunungan, diantara jajaran gunung dan pegunungan tersebut mengalir sungai-sungai.
         Adapun kehidupan politik, sosial, agama dan ekonomi pada masa Kerajaan Mataram Kuno yakni  sebagai berikut :
a.      Kehidupan Politik
   Menurut prasasti Canggal yang berangka tahun 732, pada mulanya Mataram dipimpin oleh Sanaha. Setelah Sanaha wafat kekuasaan dipegang oleh Sanjaya. Sanjaya merupakan pendiri Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram. Sanjaya merupakan penganut Hindu Syiwa. Pada masa pemerintahan Sanjaya, Mataram menjadi kerajaan besar dan makmur. Setelah Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahnnya agama Budha berkembang sangat kuat. Pada masa ini Dinasti Syailendra yang beragama Budha mulai memainkan peranan di bidang politik. Atas permohonan Raja Syailendra, pada tahun 778 Rakai Panangkaran yang beragama Hindu membangun candi Kalasan yang bercorak agama Budha.
Pada awalnya Dinasti Syailendra merupakan keluarga bangsawan yang muncul di Mataram pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Perkembangan kekuasaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah bagian selatan akhirnya menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu ke bagian tengah Jawa Tengah. Kemungkinan raja pertama dari Dinasti Syailendra yang berkuasa di Mataram adalah Rakai Panunggalan atau Dharanindra.
   Menurut prasasti Mantyasih, Rakai Panunggalan adalah raja yang berkuasa di Mataram setelah Rakai Panangkaran. Selama berkuasa di Mataram, ia membangun banyak candi megah seperti candi Sewu, candi Sari, candi Pawon, candi Mendut dan, Candi Borobudur. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.
   Pada tahun 850 Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya mebuat kesepakatan dengan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra untuk menggabungkan kedua kerajaan. Oleh karena itu, Rakai Pikatan melakukan pernikahan politik dengan Pramodhawardani ( putrid Raja Samaratungga ). Setelah Samaratungga wafat, Rakai pikatan menjadi penguasa tunggal di Mataram.
   Masa pemerintahan Rakai Pikatan di Mataram dianggap sebagai awal kebangkitan Dinasti Sanjaya. Rakai Pikatan melebur wilayah kekuasaan Dinasti Syailendra ke dalam wilayah kekuasaanya. Meskipun demikian Rakai Pikatan adalah raja yang bijaksana dan toleran, ia berusaha agar penganut Hindu maupun Budha tetap hidup rukun dan berdampingan.
   Pengganti Rakai Pikatan adalah Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Rakai Kayuwangi dibantu oleh dewan penasehat yang bertindak sebagai pelaksana pemerintahan. Selanjutnya pada masa pemerintahan Rakai Dyah Balitung struktur pemerintahan kerajaan disempurnakan. Ia membentuk 3 jabatan pentingdi bawah raja yang disebut dengan mahamantri. Ketiga mahamantri itu adalah Rakryan i Hino sebagai tangan kanan raja, ditambah dua pejabat lainnya, yaitu Rakryan i Halu dan Rakryan i Sirikan, ketiga jabatan ini merupakan tritunggal yang dipergunakan dalam struktur pemerintahan.
   Pada tahun 907 Rakai Dyah Balitung menulis prasasti Mantyasih yang berisi daftar silsilah raja-raja Mataram dari Dinasti Sanjaya. Raja-raja tersebut antara lain Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan ( Dharanindra ), Rakai Warak ( Samaratungga ), Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi ( Dyah Lokapala ), Rakai Watuhumalang, dan Rakai Dyah Balitung. Prasati ini ditemukan di kampong Matesah, Magelang Utara, Jawa Tengah.
   Berdasarkan prasasti yang ditemukan Kerajaan Mataram memiliki struktur birokrasi sebagai berikut :
1.      Pusat kerajaan, yaitu daerah ibu kota kerajaan dengan istana Sri Maharaja, tempat tinggal putra raja dan kaum kerabat dekat, para pejabat tinggi kerajaan serta para abdi dalem.
2.      Watak, yaitu daerah yang dikuasi para pejabat kerajaan.
3.      Wanua, yaitu desa-desa yang diperintah oleh para pejabat desa (rama).
b.      Kehidupan Sosial
      Dalam kehidupan masyarakat Matarm Kuno menunjukkan gejala budaya feodal. Seluruh kekayaan yang berada di tanah kerajaan adalah milik raja dan rakyat wajib membayar upeti kepada raja. Raja dan keluarganya tinggal di wilayah istana. Menurut berita dari Cina, istana Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi dinding dari batu dan kayu. Di luar dinding istana terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan dan keluarganya. Para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di tempat ini. Selanjutnya, di luar dinding kota terdapat perkampungan rakyat yang merupakan kelompok terbesar. Mereka hidup di desa-desa yang disebut Wanua.
      Di antara golongan bangsawan dan rakyat terdapat golongan pedagang asing. Kemungkian besar mereka berasal dari Cina. Raja akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang telah berjasa untuk Kerajaan Mataram. Raja akan memberikan tanah kepada mereka untuk dikelola. Pada umumnya tanah tersebut berupa hutan yang kemudian dibuka menjadi sebuah pemukiman baru. Setelah itu orang tersebut akan diangkat menjadi penguasa di tempat yang mereka buka. Ia berkuasa sebagai akuwu (kepala desa), senopati, atau adipati (kepala daerah.
      Kebudayaan masyarakat Mataram Kuno sangat bernilai tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno antara lain prasasti Canggal, prasasti Kelurak, dan prasasti Mantyasih. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.
      Masyarakat Mataram Kuno terkenal dengan keunggulan seni bangunan candi, baik candi Hindu maupun candi Budha. Candi agama Hindu yang terkenal adalah Candi Prambananyang dibangun oleh Rakai Pikatan. Sedangkan candi Budha yang terkenal adalah Candi Borobudur yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.
c.       Kehidupan Agama
      Kerajaan Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Diansti tersebut memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa berkuasa di utara sedangkan Dinasti Syailendra yang beraga Budha Mahayana berkuasa di selatan. Kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan. Hal ini terlihat dengan adanya pernikahan politik antara Rakai Pikatan ( Dinasti Sanjaya ) dengan Pramodhawardhani ( Dinasti Syailendra ). Pernikahan tersebut selain bertujuan untuk menyatukan Kerajaan Mataram secara politik juga untuk mendorong toleransi di antara pemeluk agama Hindu dan Budha.
d.      Kehidupan Ekonomi
      Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno bertumpu pada sector pertanian. Wilayah Mataram memiliki kondisi yang subur sehingga cocok untuk pertanian. Pengembangan hasil pertanian dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Selanjutnya pada masa Rakai Dyah Balitung, sector perdagangan mulai berkembang. Aktivitas perhubungan dan perdagangan laut dikembangkan melalui Sungai Bengawan Solo. Penduduk di sekitar sungai diperintahkan untuk menjamin kelancaran lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.
Lancarnya lalu lintas mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.
      Selain di sekitar Sungai Bengawan Solo, penduduk Mataram melakukan perdagangan di pasar-pasar yang terletak di pusat kota dan desa. Kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari, tetapi bergulir menurut penanggalan kalender Jawa Kuno.
      Selain pertanian dan perdagangan , industry rumah tangga berkembang di Kerajaan Mataram Kuno. Hasil industry ini antara lain keranjang anyaman, perkakas, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi ini dijual ke pasar.
      Dari kegiatan ekonomi pertanian, perdagangan, dan industri tersebut Kerajaan Mataram dapat menarik pajak.